“Bukankah cinta
itu suci?”, tanya Aura pada dirinya sendiri. “Lalu kenapa aku terlarang
mencintainya?”.
Entahlah, dia tak
tahu persis kapan perasaan itu tumbuh dan bersemi dalam hatinya. Tapi yang
pasti, dia begitu mencintai dimas. Seseorang yang telah berhasil menyita
seluruh waktu dan khayalnya. Dimas adalah sosok yang begitu sempurna dimata
Aura. Yang bisa mengerti semua inginnya, yang selalu ada setiap saat untuknya.
Hingga hari itu
pun tiba, ketika cinta mereka diuji dengan angin topan kemarahan keluarganya.
Yang melarang keras hubungannya dengan pujaan hati. Keluarganya tak
menginginkan mereka bersatu, karena akan datang malapetaka bagi kehormatan dan
nama baik masing-masing pihak.
“Ini tak bisa
dibiarkan!”. Geram ayah Aura pada ibunya.
“Aura itu keras
ayah, kita tidak bisa ikut mengerasinya. Kita harus bicara baik-baik
dengannya”. Tutur ibunya menenangkan.
“Ini akibat kamu
yang selalu memanjakannya”. Sergah ayah Aura
“Lho, kenapa jadi
nyalahin ibu?” tanya ibunya heran
“Iya, ini akibat
kamu yang ga bisa mengawasi dengan
siapa dia bergaul”. Tuduh ayahnya kembali.
“Walau
bagaimanapun kita tidak bisa sepenuhnya melarang apa yang diinginkan Aura, jika
itu kemauannya, ia sulit untuk mengubahnya”. Ibunya mengalihkan
“Jadi maksudmu, kita
biarkan saja dia menjalin hubungan terlarang dengan Dimas?”
“Bukan begitu
ayah, tapi...”
Percakapan ibu
dan ayah aura malam itu, terdengar oleh Aura yang berada di kamarnya.
Ia sadar,
cintanya dengan dimas adalah sebuah kemustahilan. Tidak akan pernah bisa
bersatu.
“Tapi, bagaimana
dengan perasaan cinta ini?” tanya aura pada hatinya
“Bukankah cinta
itu suci?” tanya aura pada dirinya sendiri
“Lalu kenapa aku
terlarang mencintainya?”
Aku ingin
bersamanya. Melihat langit biru di pagi hari bersama. Mendendangkan lagu cinta.
Dan hidup bersama, sampai tua.
Malam itupun
berlalu dengan mimpi Aura yang begitu indah bersama Dimas.
Hingga pagi pun
menyapa. Dan membangunkannya dari mimpi yang mungkin tak akan pernah jadi
nyata.
Pagi itu juga,
Aura bergegas untuk mandi dan bersiap-siap ke kampus. Ia ingin bicara dengan
Dimas. Akan ia katakan semua isi hatinya dan juga tentang keluarganya.
“Dimas, tunggu”.
Teriak Aura yang baru saja keluar dari mobil mewahnya.
Dimas pun
menoleh, dan berhenti menunggu Aura yang berlari menghampirinya.
“Iya, kenapa Ra?”
Tanya Dimas setelah Aura tepat didepannya
“kita harus
bicara, Mas”. Jawab Aura dengan nafas terengah-engah.
“Bicara apa?”
tanya Dimas lagi
“Tentang hubungan
kita” Jawab Aura singkat
“Ok, tapi jangan
disini. Gimana kalo disana aja”. Ajak Dimas sembari menunjuk sebuah
kantin yang tak jauh dari mereka.
Mereka pun
berjalan santai menuju kantin. Setelah tiba, Dimas memesan dua gelas jus pokat
yang biasa mereka minum. Tanpa basa-basi lagi, Aura pun angkat bicara.
“Mas, aku mau
kita sampai disini” sergah Aura tiba-tiba
“Apa? Kenapa Ra?”
tanya Dimas heran.
Aura diam.
“Kenapa Ra?, apa
kamu ga sayang lagi sama aku?” tanya
Dimas lagi
“bukan, bukan
itu” Jawab Aura
“Terus Kenapa?”
tanya Dimas penasaran
“Karena hubungan
kita ini terlarang Mas”. Jawab Aura
“Terlarang? siapa
yang melarang? Kita saling cinta, saling sayang, kita juga ga merugikan orang lain kan? Lalu kenapa terlarang?” tanya dimas
tak mengerti.
“Aku tau itu,
tapi orang tua ku ga akan mengizinkan
kita bersatu. Orangtuamu juga pasti demikian. Mengertilah Mas”. Bujuk Aura
dengan air mata yang mengalir.
“Aku ga bisa, Ra. Aku sayang sama kamu. Aku ga mau kita pisah. Aku mau sama-sama
kamu terus”. Rintih Dimas
“Aku juga, Mas.
Tapi kita ga bisa. Ga bisa, Mas. Kita ga boleh egois.” Bujuk Aura
Dimas terdiam
lama. Tak tau apalagi yang mau ia katakan. Sebenarnya, ia juga sadar bahwa
cinta mereka adalah kemustahilan, malapetaka, dan konyol. Tapi entah kenapa,
dia tak ingin melepaskan Aura dari dirinya. Ia begitu mencintai Aura. Entahlah,
entahlah.
“Dimas?” tegur
Aura membuyarkan lamunannya.
“Iya, Ra.” Jawab
Dimas lembut.
“Aku juga ga tau kenapa kita begini. Aku ga tau, apa ini adalah cinta. Karena
nyatanya kita hanya akan membuat orang yang kita sayangi menderita. Mungkin ini
saatnya kita membuka mata kita. Bangun dari mimpi. Dan melihat kenyataan.”
Ungkap Aura
“Aku tau apa yang
kamu rasakan, karena apa yang kamu rasakan juga aku rasakan”. Jelas Dimas
“Apa?” tanya Aura
“Kamu menganggap
konyol cinta kita kan?” jawab Dimas dengan pertanyaan.
“Konyol”. Kata
Aura sambil tertawa heran.
“Entahlah mas,
aku juga ga tau”. Sambungnya lagi
“Kalo memang kamu
ragu dengan hubungan kita, untuk apa kita lanjutkan lagi, kita tidak bisa
bersatu, aku sadar itu, selamanya tidak akan bisa”.
Dimas pun berlalu
pergi meninggalkan Aura yang tertegun mendengar kalimat terakhir darinya.
Jauh, jauh, dan
semakin jauh.
Aura masih
tertegun, lama dengan lamunannya mengingat 1 tahun silam, ketika pertama kali
ia bertemu dengan Dimas. Ketika itu Aura dan Dimas bertemu saat masih jadi
mahasiswa baru di kampusnya. Tepatnya saat masa orientasi mahasiswa baru. Saat
itu, tanpa sengaja mereka bertabrakan. Kemudian berkenalan hingga cinta itupun
bersemi diantara keduanya.
Di sela
lamunannya Aura tertawa kecil penuh heran, kenapa cinta itu bisa ada di antara
mereka. Entah, bagaimana awalnya. Ia pun tak mengerti.
Kenapa mereka
sendiri tidak mengerti dengan perasaan yang mereka miliki.
Apa karena Dimas
sama dengan Aura. Lalu mereka tidak bisa bersatu?. Apa karena Dimas dan Aura sama-sama wanita,
lalu mereka tidak bisa bersama?.
Cinta macam apa
sih ini? Cinta macam apa?
Sudahlah, lupakan
saja.
Dimas diciptakan
bukan untuk bersama Aura. Tapi bersama yang lain. Bukan Aura.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar