Selasa, 22 Januari 2013

Dimas bukan untuk Aura

 “Bukankah cinta itu suci?”, tanya Aura pada dirinya sendiri. “Lalu kenapa aku terlarang mencintainya?”.

Entahlah, dia tak tahu persis kapan perasaan itu tumbuh dan bersemi dalam hatinya. Tapi yang pasti, dia begitu mencintai dimas. Seseorang yang telah berhasil menyita seluruh waktu dan khayalnya. Dimas adalah sosok yang begitu sempurna dimata Aura. Yang bisa mengerti semua inginnya, yang selalu ada setiap saat untuknya.
Hingga hari itu pun tiba, ketika cinta mereka diuji dengan angin topan kemarahan keluarganya. Yang melarang keras hubungannya dengan pujaan hati. Keluarganya tak menginginkan mereka bersatu, karena akan datang malapetaka bagi kehormatan dan nama baik masing-masing pihak.
“Ini tak bisa dibiarkan!”. Geram ayah Aura pada ibunya.
“Aura itu keras ayah, kita tidak bisa ikut mengerasinya. Kita harus bicara baik-baik dengannya”. Tutur ibunya menenangkan.
“Ini akibat kamu yang selalu memanjakannya”. Sergah ayah Aura
“Lho, kenapa jadi nyalahin ibu?” tanya ibunya heran
“Iya, ini akibat kamu yang ga bisa mengawasi dengan siapa dia bergaul”. Tuduh ayahnya kembali.
“Walau bagaimanapun kita tidak bisa sepenuhnya melarang apa yang diinginkan Aura, jika itu kemauannya, ia sulit untuk mengubahnya”. Ibunya mengalihkan
“Jadi maksudmu, kita biarkan saja dia menjalin hubungan terlarang dengan Dimas?”
“Bukan begitu ayah, tapi...”
Percakapan ibu dan ayah aura malam itu, terdengar oleh Aura yang berada di kamarnya.
Ia sadar, cintanya dengan dimas adalah sebuah kemustahilan. Tidak akan pernah bisa bersatu.
“Tapi, bagaimana dengan perasaan cinta ini?” tanya aura pada hatinya
“Bukankah cinta itu suci?” tanya aura pada dirinya sendiri
“Lalu kenapa aku terlarang mencintainya?”
Aku ingin bersamanya. Melihat langit biru di pagi hari bersama. Mendendangkan lagu cinta. Dan hidup bersama, sampai tua.
Malam itupun berlalu dengan mimpi Aura yang begitu indah bersama Dimas.
Hingga pagi pun menyapa. Dan membangunkannya dari mimpi yang mungkin tak akan pernah jadi nyata.
Pagi itu juga, Aura bergegas untuk mandi dan bersiap-siap ke kampus. Ia ingin bicara dengan Dimas. Akan ia katakan semua isi hatinya dan juga tentang keluarganya.

“Dimas, tunggu”. Teriak Aura yang baru saja keluar dari mobil mewahnya.
Dimas pun menoleh, dan berhenti menunggu Aura yang berlari menghampirinya.
“Iya, kenapa Ra?” Tanya Dimas setelah Aura tepat didepannya
“kita harus bicara, Mas”. Jawab Aura dengan nafas terengah-engah.
“Bicara apa?” tanya Dimas lagi
“Tentang hubungan kita” Jawab Aura singkat
“Ok, tapi jangan disini. Gimana kalo disana aja”. Ajak Dimas sembari menunjuk sebuah kantin yang tak jauh dari mereka.

Mereka pun berjalan santai menuju kantin. Setelah tiba, Dimas memesan dua gelas jus pokat yang biasa mereka minum. Tanpa basa-basi lagi, Aura pun angkat bicara.
“Mas, aku mau kita sampai disini” sergah Aura tiba-tiba
“Apa? Kenapa Ra?” tanya Dimas heran.
Aura diam.
“Kenapa Ra?, apa kamu ga sayang lagi sama aku?” tanya Dimas lagi
“bukan, bukan itu” Jawab Aura
“Terus Kenapa?” tanya Dimas penasaran
“Karena hubungan kita ini terlarang Mas”. Jawab Aura
“Terlarang? siapa yang melarang? Kita saling cinta, saling sayang, kita juga ga merugikan orang lain kan? Lalu kenapa terlarang?” tanya dimas tak mengerti.
“Aku tau itu, tapi orang tua ku ga akan mengizinkan kita bersatu. Orangtuamu juga pasti demikian. Mengertilah Mas”. Bujuk Aura dengan air mata yang mengalir.
“Aku ga bisa, Ra. Aku sayang sama kamu. Aku ga mau kita pisah. Aku mau sama-sama kamu terus”. Rintih Dimas
“Aku juga, Mas. Tapi kita ga bisa. Ga bisa, Mas. Kita ga boleh egois.” Bujuk Aura
Dimas terdiam lama. Tak tau apalagi yang mau ia katakan. Sebenarnya, ia juga sadar bahwa cinta mereka adalah kemustahilan, malapetaka, dan konyol. Tapi entah kenapa, dia tak ingin melepaskan Aura dari dirinya. Ia begitu mencintai Aura. Entahlah, entahlah.
“Dimas?” tegur Aura membuyarkan lamunannya.
“Iya, Ra.” Jawab Dimas lembut.
“Aku juga ga tau kenapa kita begini. Aku ga tau, apa ini adalah cinta. Karena nyatanya kita hanya akan membuat orang yang kita sayangi menderita. Mungkin ini saatnya kita membuka mata kita. Bangun dari mimpi. Dan melihat kenyataan.” Ungkap Aura
“Aku tau apa yang kamu rasakan, karena apa yang kamu rasakan juga aku rasakan”. Jelas Dimas
“Apa?” tanya Aura
“Kamu menganggap konyol cinta kita kan?” jawab Dimas dengan pertanyaan.
“Konyol”. Kata Aura sambil tertawa heran.
“Entahlah mas, aku juga ga tau”. Sambungnya lagi
“Kalo memang kamu ragu dengan hubungan kita, untuk apa kita lanjutkan lagi, kita tidak bisa bersatu, aku sadar itu, selamanya tidak akan bisa”.
Dimas pun berlalu pergi meninggalkan Aura yang tertegun mendengar kalimat terakhir darinya.
Jauh, jauh, dan semakin jauh.

Aura masih tertegun, lama dengan lamunannya mengingat 1 tahun silam, ketika pertama kali ia bertemu dengan Dimas. Ketika itu Aura dan Dimas bertemu saat masih jadi mahasiswa baru di kampusnya. Tepatnya saat masa orientasi mahasiswa baru. Saat itu, tanpa sengaja mereka bertabrakan. Kemudian berkenalan hingga cinta itupun bersemi diantara keduanya.
Di sela lamunannya Aura tertawa kecil penuh heran, kenapa cinta itu bisa ada di antara mereka. Entah, bagaimana awalnya. Ia pun tak mengerti.
Kenapa mereka sendiri tidak mengerti dengan perasaan yang mereka miliki.
Apa karena Dimas sama dengan Aura. Lalu mereka tidak bisa bersatu?.  Apa karena Dimas dan Aura sama-sama wanita, lalu mereka tidak bisa bersama?.
Cinta macam apa sih ini? Cinta macam apa?
Sudahlah, lupakan saja.
Dimas diciptakan bukan untuk bersama Aura. Tapi bersama yang lain. Bukan Aura.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar